Minggu, 15 April 2012

Dua komponen manusia

ASSALAMMUALAIKUM WR WB 
manusia dimuka bumi ini terdiri atas dua komponen besar: 
1. Manusia yang yang menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah sebagai pedoman hidupnya. 
2. Manusia yang menjadikan hawa nafsu sebagai pedoman hidupnya. Sehingga dalam hal ini yang paling banyak bertindak selaku motornya adalah Iblis laknatullah Penyebab Maksiat. Ketika seseorang dengan sengaja melakukan hal yang kurang baik atau kejelekan maupaun itu maksiat, maka hal inilah yang akan berdampak pada adanya keinginan untuk melakukan yang kedua kali serta seterusnya. Firman Allah: kemudian akibat orang-orang yang berbuat keburukuan itu juga keburukan (QS 30: 10) Selain itu, cinta pangkat dan jabatan juga menjadi salah satu factor dari kejelakan (As-Sayyiah). 
Firman Allah Apakah engkau telah melihat orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, Apalah engkau akan jadi pemelihara atasnya? (QS 25: 43). 
Dampak yang lebih parah dari cinta pangkat dan jabatan adalah penyakit cinta dunia yang berlebihan. Sehingga apa yang sudah didapatkan akan selalu merasa kurang puas. Demikianlah tipu muslihat syetan dalam memperdaya anak cucu adam dimuka bumi ini. Penyebab Kebaikan. Begitu juga dengan perbuatan baik, atau Al-Hasanah. Apabila seseorang pernah melakukan suatu perbuatan baik, meskipun baru sekali, maka akan berdampak pada pelaku kebaikan itu sendiri; yaitu adanya keinginan untuk mengulangi kebaikan itu. Firman Allah: seandainya mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, maka hal itu tentulah lebih baik bagi mereka dan akan mengokohkan iman mereka. Namun apabila mereka demikian, niscaya kami akan berikan pahala yang sangat besar untuk mereka dari sisi kami. Dan niscaya kami akan tunjuki mereka jalan yang lurus. (QS: 4: 66-68) 
Abu Utsman An-Naisabury mengatakan, bahwa barang siapa yang menjadikan As-Sunnah (hadits Rasulullah) sebagai pengatur dirinya dalam kehidupan ini, baik itu dalam perkataan maupun perbuatan, maka dampak dari itu ia akan berbicara dengan bijaksana (penuh hikmah). Namun sebaliknya, apabila seseorang yang menjadikan hawa nafsu sebagai pengatur dirinya, baik dari sisi perkataan maupun perbuatan, maka ia akan berbicara dengan sesuatu yang diada-adakan. Firman Allah, Apabila kalian taat kepada As-Sunnah, maka kalian akan mendapatkan petunjuk (QS 25: 54)
 Perbedaan antara kebaikan (Al-Hasanah) dengan kejelekan (As-Sayyiah) menurut Ibnu Taimiah dalam bukunya Al-Hasanah wa As-Sayyiah
 1. Setiap kenikmatan dan kebaikan yang Allah berikan kepada manusia, maka itu sesungguhnya merupakan ujian, namun nikmat tersebut diberikan tanpa harus ada suatu penyebab yang menjadikan Allah memberikan nikmat tersebut. Contoh; nikmat kesehatan, nikmat rezeki, nikamt pertolongan dll. Dalam hal ini, Allah tidak membeda-bedakan antara orang-orang yang beriman tau tidak. Naming letak ujiannya adalah, bagaiamana masing-masing dari manusia tersebut mampu menggunakan semua nikmat dari Allah itu pada jalan yang benar serta lurus.
 2. Perbuatan jelek atau As-Sayyiah, akan mendapatkan teguran atau azab dari Allah. Namun teguran atau azab tersebut bukan kehendak dari Allah, namun kehendak dari pelaku itu sendiri. Misalnya, kita dihadapan kita ada dua jenis makanan, yang satunya sungguh sangat enak dan bergizi, namun yang satu lagi adalah makanan yang sudah basi. Apabila kita memilih makanan yang sehat lagi bergizi, tentulah kita akan mengalami dampak yang positf. Namun apabila kita memilih makanan yang sudah basi, maka resiko bermasalah dengan perut adalah tanggung jawab kita sendiri. Hal ini karena ulah kita sendiri.
 3. Orang-orang yang berbuat dosa atau kejelekan (As-Sayyiah), namun ia segera bertobat akan kesalahannya, maka ia telah mengikuti jalannya orang-orang yang beruntung serta mendapat petunjuk dariNya. Sebagai gambarannya, marilah kita melihat secara bersama bagaiamana kehidupan orang jahiliyah ketika Islam belum datang. Namun ketika Nabi Muhammad datang membawa risalah Islam, orang-orang yang terbuka hatinya untuk mendapatkan hidayah menyadari akan kesalahan dan kekeliruan mereka. Sehingga mereka memeluk Islam serta menjadi pembela Islam hingga akhir hayatnya. Semoga kita termasuk orang-orang ang selalu mengetahui kesalahan dan berusaha untuk meminimalisir hingga menjauhinya.
 4. Apabila seseorang tetap nyaman dengan perbuatan jelek yang berdampak pada penumpukan dosa dengan dalih bahwa itu merupakan takdir Allah, maka sesungguhnya mereka telah mengikuti golongan orang-orang yang sesat lagi merugi serta tidak mendapat petunjuk. Hal ini merupakan sudah janji Syetan kepada Allah untuk selalau senantiasa menggoda anak cucu adam hingga kiamat kelak. Tidak lain tidak bukan supaya menjadi temannya di neraka kelak.
 5. Kebaikan atau Al-Hasanah akan dilipat gandakan oleh Allah serta akan menambahnya lebih banyak lagi. Sedangkan perbuatan buruk atau As-Sayyiah tidak akan mendapatkan pahala, namun akan mendapatkan dosa setelah ia melakukan dosa tersebut. Firman Allah: Siapa saja yang datang membawa amal kebaikan, maka dia akan memperoleh kebaikan itu dengan pahala sepuluh kali lipat dari amal kebaikannya tersebut. Dan barang siapa yang membawa amal keburukan, maka dia tidak akan mendapatkan balasan kecuali sama dengan amal keburukannya dan mereka sesungguhnya tidak terzholomi. (QS 7: 160)
 6. Sumber keburukan atau kejelekan (As-Sayyiah) adalah kebodohan, memperturutkan syahwat serta hawa nafsu lalai akan berbuat kebaikan.
 7. Sumber kebaikan (Al-Hasanah) adalah ilmu pengetahuan, iman yang kuat dan ketaatan. namun semua kebaikan dan keburukan ada Kuncinya Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: "Sesungguhnya Allah telah menjadikan bagi segala sesuatu kunci untuk membukanya,
 - Allah menjadikan kunci pembuka shalat adalah bersuci sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam :
 `Kunci shalat adalah bersuci´,
 - Allah Subhanahu wa Ta´ala menjadikan kunci pembuka haji adalah ihram, 
- Kunci kebajikan adalah kejujuran, - Kunci surga adalah tauhid, - Kunci ilmu adalah bagusnya bertanya dan mendengarkan,
 - Kunci kemenangan adalah kesabaran, 
- Kunci ditambahnya nikmat adalah syukur,
 - Kunci kewalian adalah mahabbah dan dzikir
, - Kunci keberuntungan adalah takwa, 
- Kunci taufik adalah harap dan cemas kepada Allah `Azza wa Jalla,
 - Kunci dikabulkan adalah doa, - Kunci keinginan terhadap akhirat adalah zuhud di dunia,
 - Kunci keimanan adalah tafakkur pada hal yang diperintahkan Allah, keselamatan baginya, serta keikhlasan terhadap-Nya di dalam kecintaan, kebencian, melakukan, dan meninggalkan, 
- Kunci hidupnya hati adalah tadabbur al-Qur´an, beribadah di waktu sahur, dan meninggalkan dosa-dosa, 
- Kunci didapatkannya rahmat adalah ihsan di dalam peribadatan terhadap Khaliq dan berupaya memberi manfaat kepada para hamba-Nya,
 - Kunci rezeki adalah usaha bersama istighfar dan takwa, 
- Kunci kemuliaan adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, 
- Kunci persiapan untuk akhirat adalah pendeknya angan-angan, 
- Kunci semua kebaikan adalah keinginan terhadap Allah dan kampung akhirat,
 - Kunci semua kejelekan adalah cinta dunia dan panjangnya angan-angan. "Ini adalah bab yang agung dari bab-bab ilmu yang paling bermanfaat, yaitu mengetahui pintu-pintu kebaikan dan kejelekan, tidaklah diberi taufik untuk mengetahuinya dan memperhatikannya kecuali seorang yang memiliki bagian dan taufik yang agung, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta´ala telah menjadikan kunci bagi setiap kebaikan dan kejelekan,
 kunci dan pintu untuk masuk kepadanya sebagaimana Allah jadikan :
 - Kesyirikan, kesombongan, berpaling dari apa yang disampaikan Allah kepada Rasul-Nya, dan lalai dari dzikir terhadap-Nya dan melaksanakan hak-Nya sebagai kunci ke neraka,
 - Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta´ala jadikan khamr sebagai kunci segala dosa.
 - Dia jadikan nyanyian sebagai kunci perzinaan, - Dia jadikan melepaskan pandangan pada gamba-gambar sebagai kunci kegelisahan dan kegandrungan, 
- Dia jadikan kemalasan dan kesantaian sebagai kunci kerugian dan luputnya segala sesuatu,
 - Dia jadikan kemaksiatan-kemaksiatan sebagai kunci kekufuran,
 - Dia jadikan dusta sebagai kunci kenifakan (kemunafikan -ed),
 - Dia jadikan kekikiran dan ketamakan sebagai kunci kebakhilan, memutus silaturahim, serta mengambil harta dengan cara yang tidak halal dan
 - Dia jadikan berpaling dari apa yang dibawa Rasul sebagai kunci segala kebid´ahan dan kesesatan. "Perkara-perkara ini tidaklah membenarkannya kecuali setiap orang yang memiliki ilmu yang shahih dan akal yang bisa mengetahui dengannya apa yang ada dalam dirinya dan apa yang berwujud dari kebaikan dan kejelekan. Maka sepantasnya seorang hamba memperhatikan dengan sebaik-baiknya ilmu terhadap kunci-kunci ini dan kunci-kunci yang dijadikan untuknya." (Hadil Arwah 1/48-49)

Minggu, 01 April 2012

ASBABUN NUZUL


A. Pengertian Asbabun Nuzul

Asbabun Nuzul didefinisikan “sebagai suatu hal yang karenanya al-qur’an diturunkan untuk menerangkan status hukumnya, pada masa hal itu terjadi, baik berupa peristiwa maupun pertanyaan”, asbabun nuzul membahas kasus-kasus yang menjadi turunnya beberapa ayat al-qur’an, macam-macamnya, sight (redaksi-redaksinya), tarjih riwayat-riwayatnya dan faedah dalam mempelajarinya.

Untuk menafsirkan qur’an ilmu asbabun nuzul sangat diperlukan sekali, sehingga ada pihak yang mengkhususkan diri dalam pembahasan dalam bidang ini, yaitu yang terkenal diantaranya ialah Ali bin madani, guru bukhari, al-wahidi , al-ja’bar , yang meringkaskan kitab al-wahidi dengan menghilangkan isnad-isnadnya, tanpa menambahkan sesuatu, syikhul islam ibn hajar yang mengarang satu kitab mengenai asbabun nuzul.

Pedoman dasar para ulama’ dalam mengetahui asbabun nuzul ialah riwayat shahih yang berasal dari rasulullah atau dari sahabat. Itu disebabkan pembaritahuan seorang sahabat mengenai asbabun nuzul, al-wahidi mengatakan: “ tidak halal berpendapat mengenai asbabun nuzul kitab, kecuali dengan berdasarkan pada riwayat atau mendengar langsung dari orang-orang yang menyaksikan turunnya. Mengetahui sebab-sebabnya dan membahas tentang pengertian secara bersungguh-sungguh dalam mencarinya ”.

Para ulama’ salaf terdahulu untuk mengemukakan sesuatu mengenai asbabun nuzul mereka amat berhati-hati, tanpa memiliki pengetahuan yang jelas mereka tidak berani untuk menafsirkan suatu ayat yang telah diturunkan. Muhammad bin sirin mengatakan: ketika aku tanyakan kepada ‘ubaidah mengetahui satu ayat qur’an, dijawab: bertaqwalah kapada allah dan berkatalah yang benar. Orang-oarang yang mengetahui mengenai apa qur’an itu diturunkan telah meninggal.

Maksudnya: para sahabat, apabila seorang ulama semacam ibn sirin, yang termasuk tokoh tabi’in terkemuka sudah demikian berhati-hati dan cermat mengenai riwayat dan kata-kata yang menentukan, maka hal itu menunjukkan bahwa seseorang harus mengetahui benar-benar asbabun nuzul. Oleh sebab itu yang dapat dijadikan pegangan dalam asbabun nuzul adalah riwayat ucapan-ucapan sahabat yang bentuknya seperti musnad, yang secara pasti menunjukkan asbabun nuzul.

Al-wahidi telah menentang ulama-ulama zamannya atas kecerobohan mereka terhadap riwayat asbabun nuzul, bahkan dia (Al-wahidi ) menuduh mereka pendusta dan mengingatkan mereka akan ancaman berat, dengan mengatakan: “ sekarang, setiap orang suka mangada-ada dan berbuat dusta; ia menempatkan kedudukannya dalam kebodohan, tanpa memikirkan ancaman berat bagi orang yang tidak mengetahui sebab turunnya ayat ”.


B.    Pedoman mengetahui asbabun nuzul

Aisyah pernah mendengar ketika khaulah binti sa’labah mempertanyakan suatu hal kepada nabi bahwasannya dia dikenakan zihar. Oleh suaminya aus bin samit katanya: “ Rasulullah, suamiku telah menghabiskan masa mudaku dan sudah beberapa kali aku mengandung karenanya, sekarang setelah aku menjadi tua dan tidak beranak lagi ia menjatuhkan zihar kepadaku”. Ya allah sesunguhnya aku mengadu kepadamu, aisyah berkata: tiba-tiba jibril turun membawa ayat-ayat ini; sesungguhnya allah telah mendengar perkataan perempuan yang mengadu kepadamu tentang suaminya, yakni aus bin samit.

“Hal ini tidak berarti sebagai acuan bagi setiap orang harus mencari sebab turun setiap ayat”, karena tidak semua ayat qur’an diturunkan sebab timbul suatu peristiwa dalam kejadian, atau karena suatu pertanyaan. Tetapi ada diantara ayat qur’an yang diturunkan sebagai permulaan tanpa sebab, mengenai akidah iman, kewajiban islam dan syariat allah dalam kehidupan pribadi dan social.

Definisi asbabun nuzul yang dikemukakan pada pembagian ayat-ayat al-qur’an terhadap dua kelompok: Pertama, kelompok yang turun tanpa sebab, dan kedua, adalah kelompok yang turun dengan sebab tertentu. Dengan demikian dapat diketahui bahwa tidak semua ayat menyangkut keimanan, kewajiban dari syariat agama turun tanpa asbabun nuzul.

Sahabat ali ibn mas’ud dan lainnya, tentu tidak satu ayatpun diturunkan kecuali salah seorang mereka mengetahui tentang apa ayat itu diturunkan seharusnya tidak dipahami melalui beberapa kemungkinan; Pertama, dengan pernyataan itu mereka bermaksud mengungkapkan betapa kuatnya perhatian mereka terhadap al-qur’an dan mengikuti setiap keadaan yang berhubungan dengannya. Kedua, mereka berbaik sangka dengan segala apa yang mereka dengar dan saksikan pada masa rasulullah dan mengizinkan agar orang mengambil apa yang mereka ketahui sehingga tidak akan lenyap dengan berakhirnya hidup mereka, bagaimanapun suatu hal yang logis bahwa tidak mungkin semua asbabun nuzul dari semua ayat yang mempunyai sebab al-nuzul bisa mereka saksikan. Ketiga, para periwayat menambah dalam periwatnya dan membangsakannya kepada sahabat.

Intensitas para sahabat mempunyai semangat yang tinggi untuk mengikuti perjalanan turunnya wahyu, mereka bukan saja berupaya menghafal ayat-ayat al-qur’an dan hal-hal yang berhubungan serta mereka juga melestarikan sunah nabi, sejalan dengan itu al-hakim menjelaskan dalam ilmu hadist bahwa seorang sahabat yang menyaksikan masa wahyu dan al-qu’an diturunkan tentang suatu ( kejadian ) maka hadist itu dipandang hadist musnad, Ibnu al-shalah dan lainnya juga sejalan dengan pandangan ini.

Asbabun Nuzul dengan hadist mursal, yaitu hadist yang gugur dari sanadnya seoarng sahabat dan mata rantai periwayatnya hanya sampai kepada seorang tabi’in, maka riwayat ini tidak diterima kecuali sanadnya shahih dan mengambil tafsirnya dari para sahabat, seperti mujahid, hikmah dan said bin jubair. para ulama menetapkan bahwa tidak ada jalan untuk mengetahui asbabun nuzul kecuali melalui riwayat yang shahih. Mereka tidak dapat menerima hasil nalar dan ijtihad dalam masalah ini, namun tampaknya pandangan mereka tidak selamanya berlaku secara mutlak, tidak jarang pandangan terhadap riwayat-riwayat asbabun nuzul bagi ayat tertentu berbeda-beda yang kadang-kadang memerlukan Tarjih ( mengambil riwayat yang lebih kuat ) untuk melakukan tarjih diperlukan analisis dan ijtihad.
C.    Macam-macam asbabun nuzul

Dari segi jumlah sebab dan ayat yang turun, asbabun nuzul dapat dibagi kepada ta’addud al-asbab wa al-nazil wahid ( sebab turunnya lebih dari satu dan ini persoalan yang terkandung dalam ayat atau kelompok ayat yang turun satu ) dan ta’addud al-nazil wa al-sabab wahid (ini persoalan yang terkandung dalam ayat atau kelompok ayat yang turun lebih dari satu sedang sebab turunnya satu ). sebab turun ayat disebut ta’addud karena wahid atau tunggal bila riwayatnya hanya satu, sebaliknya apabila satu ayat atau sekelompok ayat yang turun disebut ta’addud al-nazil.

Jika ditemukan dua riwayat atau lebih tentang sebab turun ayat-ayat dan masing-masing menyebutkan suatu sebab yang jelas dan berbeda dari yang disebutkan lawannya, maka riwayat ini harus diteliti dan dianalisis, permasalahannya ada empat bentuk: Pertama, salah satu dari keduanya shahih dan lainnya tidak. Kedua, keduanya shahih akan tetapi salah satunya mempunyai penguat ( Murajjih ) dan lainnya tidak. Ketiga, keduanya shahih dan keduanya sama-sama tidak mempunyai penguat ( Murajjih ). Akan tetapi, keduanya dapat diambil sekaligus. Keempat, keduanya shahih, tidak mempunyai penguat ( Murajjih ) dan tidak mungkin mengambil keduanya sekaligus.
D.    Pengetahuan tentang asbabun nuzul

Perlunya mengetahui asbabun nuzul, al-wahidi berkata:” tidak mungkin kita mengetahui penafsiran ayat al-qur’an tanpa mangetahui kisahnya dan sebab turunnya ayat adalah jalan yang kuat dalam memahami makna al-qur’an”. Ibnu taimiyah berkata: mengetahui sebab turun ayat membantu untuk memahami ayat al-qur’an. Sebab pengetahuan tentang “sebab” akan membawa kepada pengetahuan tentang yang disebabkan (akibat).
Namum sebagaimana telah diterangkan sebelumnya tidak semua al-qur’an harus mempunyai sebab turun, ayat-ayat yang mempunyai sebab turun juga tidak semuanya harus diketahui sehingga, tanpa mengetahuinya ayat tersebut bisa dipahami, ahmad adil kamal menjelaskan bahwa turunnya ayat-ayat al-qur’an melalui tiga cara:
  1. Pertama ayat-ayat turun sebagai reaksi terhadap pertanyaan yang dikemukakan kepada nabi.
  2. Kedua ayat-ayat turun sebagai permulaan tanpa didahului oleh peristiwa atau pertanyaan.
  3. Ketiga ayat-ayat yang mempunyai sebab turun itu terbagi menjadi dua kelmpok;
  • Ayat-ayat yang sebab turunnya harus diketahui ( hukum ) karena asbabun nuzulnya harus diketahui agar penetapan hukumnya tidak menjadi keliru.
  • Ayat-ayat yang sebab turunnya tidak harus diketahui, ( ayat yang menyangkut kisah dalam al-qur’an).

Kebanyakan ayat-ayat kisah turun tanpa sebab yang khusus, namun ini tidak benar bahwa semua ayat-ayat kisah tidak perlu mengetahui sebab turunnya, bagaimanpun sebagian kisah al-qur’an tidak dapat dipahami tanpa pengetahuan tentang sebab turunnya.



E.    Faedah asbabun nuzul 

  1. Membawa kepada pengetahuan tentang rahasia dan tujuan allah secara khusus mensyari’atkan agama-Nya melalui al-qur’an.
  2. Membantu dalam memahami ayat dan menghindarkan kesulitannya.
  3. Dapat menolak dugaan adanya Hasr ( pembatasan ).
  4. Dapat mengkhususkan (Takhsis) hokum pada sebab menurut ulama yang memandang bahwa yang mesti diperhatikan adalah kekhususan sebab dan bukan keumuman lafal.
  5. Diketahui pula bahwa sebab turun ayat tidak pernah keluar dari hokum yang terkandung dalam ayat tersebut sekalipun datang mukhasisnya ( yang mengkhususkannya ).
  6. Diketahui ayat tertetu turun padanya secara tepat sehingga tidak terjadi kesamaran bisa membawa kepada penuduhan terhadap orang yang tidak bersalah dan pembebasan bagi orang yang tidak bersalah.
  7. Akan mempermudah orang menghafal ayat-ayat al-qur’an serta memperkuat keberadaan wahyu dalam ingatan orang yang mendengarnya jika mengetahui sebab turunnya.